Mengungkap Kebiasaan Membaca Orang Jepang: Antara Digitalisasi dan Fenomena "Tsundoku"
![]() |
| Ilustrasi kebiasaan membaca |
TELUSURI JEPANG - Membaca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jepang selama berabad-abad. Dari novel klasik Genji Monogatari hingga manga kontemporer yang mendunia, tradisi literasi negeri matahari terbit ini selalu menjadi sorotan. Namun, di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, bagaimana sejatinya wajah kebiasaan membaca masyarakat Jepang terkini? Berdasarkan berbagai data faktual dan hasil survei terbaru, kita dapat mengupas tuntas fenomena ini.
Potret Makro: Masyarakat yang Semakin Menjauh dari Buku
Data terkini menunjukkan sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan: mayoritas masyarakat Jepang kian menjauh dari aktivitas membaca buku. Berdasarkan "国語に関する世論調査" (Survei Opini Publik tentang Bahasa Nasional) yang dilakukan oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang pada tahun 2024, tercatat untuk pertama kalinya lebih dari 60% responden mengaku tidak membaca satu buku pun dalam sebulan. Persentasenya mencapai 62,6% dan ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah survei tersebut dilakukan. Angka tersebut melonjak drastis sebesar 15,3 poin persentase dibandingkan survei serupa sebelumnya pada tahun fiskal 2018 yang masih berada di angka 47,3%. Artinya, hampir dua dari tiga orang Jepang dewasa kini tidak menyentuh buku sama sekali selama sebulan penuh.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kelompok tertentu. Lembaga riset pemasaran Cross Marketing dalam "Survei Membaca (2025)" yang melibatkan 1.100 responden pria dan wanita berusia 20 hingga 69 tahun menemukan bahwa 51,6% responden membaca kurang dari satu buku dalam kurun waktu enam bulan. Lebih spesifik, pada wanita berusia 40-an, angkanya menembus 60%. Survei ini juga mengonfirmasi bahwa jumlah orang yang benar-benar tidak membaca semakin membesar. Alasan utama kemerosotan ini sangat jelas: 43,6% responden menyatakan waktu mereka habis tersita oleh gawai informasi seperti ponsel pintar dan internet. Jawaban ini secara khusus lebih banyak dipilih oleh generasi muda.
"Tsundoku" dan Perubahan Perilaku Konsumsi Teks
Meskipun tingkat membaca buku konvensional menurun, bukan berarti masyarakat Jepang berhenti mengonsumsi informasi tekstual. Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks menarik yang berkaitan dengan filosofi "Tsundoku", yaitu kebiasaan menumpuk buku tanpa sempat membacanya. Di era digital, "Tsundoku" tidak lagi hanya berarti tumpukan buku fisik, melainkan juga tumpukan artikel digital, e-book, atau konten berbayar di ponsel yang belum tersentuh.
Survei Badan Urusan Kebudayaan menemukan bahwa dari mereka yang tidak membaca buku secara rutin, 75,3% di antaranya tetap memperoleh informasi dari sumber lain, seperti unggahan media sosial dan artikel daring, hampir setiap hari. Ini menandakan adanya pergeseran besar dari "membaca mendalam" menjadi "membaca permukaan" serta dari buku fisik ke teks digital yang lebih pendek dan fragmentatif. Meski demikian, sisi positif mulai terlihat: dari 5,5% responden yang justru mengalami peningkatan volume membaca, 18,6% menyebutkan bahwa kemudahan mengakses e-book menjadi penyebab utamanya. Hal ini menunjukkan bahwa transisi platform dari kertas ke digital mulai memfasilitasi sebagian kecil segmen masyarakat yang lebih adaptif terhadap teknologi.
Krisis Literasi di Kalangan Pelajar: Alarm yang Kian Keras
Kekhawatiran yang jauh lebih besar tertuju pada generasi muda. Penelitian bersama antara Benesse Educational Research Institute dan Universitas Tokyo mengungkap penurunan minat baca yang sangat tajam di kalangan pelajar Jepang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 2024, sebanyak 52,7% pelajar SD hingga SMA mengaku tidak meluangkan waktu membaca buku setiap hari. Proporsi ini melonjak sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan data tahun 2015 yang masih berada di angka 34,3%. Jika dirinci, rata-rata waktu membaca harian untuk siswa kelas 4-6 SD turun 6,3 menit, siswa SMP turun 5,9 menit, dan siswa SMA turun 4,9 menit hanya dalam waktu satu dekade.
Tentu saja, penurunan waktu membaca ini berbanding terbalik dengan melonjaknya screen time. Dalam periode yang sama, waktu penggunaan ponsel pintar harian meningkat 22,4 menit untuk siswa SD atas dan 51,9 menit untuk siswa SMP. Data menunjukkan bahwa semakin lama seorang anak menggunakan ponsel, semakin pendek waktu membaca mereka. Yang lebih mencemaskan, hasil "Survei Membaca Sekolah ke-70" (2025) menunjukkan bahwa persentase "non-pembaca" (mereka yang tidak membaca satu buku pun dalam sebulan) mencapai 9,6% pada siswa SD, 24,2% pada siswa SMP, dan melonjak drastis hingga 55,7% pada siswa SMA. Angka pada siswa SMA ini meningkat tajam 7,4 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Krisis ini membawa dampak langsung terhadap kemampuan akademik. Analisis data Benesse menemukan bahwa terdapat korelasi antara membaca dengan penguasaan kosakata. Siswa SD kelas 3 dan 6 serta siswa SMP kelas 3 yang memiliki durasi membaca lebih panjang cenderung memiliki skor kosakata yang lebih tinggi. Menariknya, pada siswa SMA kelas 3, skor optimal justru diraih oleh kelompok yang membaca selama 30 menit, sementara kelompok yang membaca lebih dari 1 jam menunjukkan hasil yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan adanya kurva berbentuk U terbalik dalam hubungan antara waktu membaca dan performa akademik pada level yang lebih tinggi. Dengan kata lain, membaca tetap penting, namun kualitas dan porsinya perlu diperhatikan sesuai dengan jenjang pendidikan.
Dari Komuter hingga Kafe: Evolusi Ruang dan Medium Membaca
Ingatan kolektif mengenai pemandangan komuter Jepang yang berdiri di kereta sambil memegang buku saku atau bunkobon perlahan mulai memudar. Jika pada era 1970-an hingga 1990-an kereta listrik di Jepang yang penuh sesak tetap dihiasi oleh para pembaca buku bersampul tebal, kini lanskap tersebut telah berubah total. Kemunculan ponsel pintar telah menggantikan posisi bunkobon di tangan para komuter, yang kini lebih banyak menunduk untuk menggulir layar media sosial atau membaca artikel berita singkat. Meski demikian, bukan berarti aktivitas membaca komuter benar-benar lenyap, melainkan bertransformasi.
Transformasi ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan pasar buku elektronik. Data dari Impress Research Institute menunjukkan bahwa pada tahun fiskal 2024, nilai pasar e-book Jepang diperkirakan mencapai 670,3 miliar yen (sekitar 6.703 miliar dolar AS), meningkat 3,9% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini diproyeksikan akan terus berlanjut hingga mendekati 800 miliar yen pada tahun 2029. Meskipun pasar penerbitan secara keseluruhan mengalami kontraksi 1,6% menjadi 1,54 triliun yen pada tahun 2025 dengan penjualan buku cetak yang anjlok hingga di bawah 1 triliun yen untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, segmen digital justru naik 2,7% menjadi 581,5 miliar yen. Dari data ini, terlihat jelas bahwa meskipun aktivitas membaca buku fisik menurun drastis, konsumsi konten tekstual melalui gawai tetap menjadi andalan, meski formatnya lebih pendek dan sering kali berupa komik digital.
Berbicara tentang komik, tidak lengkap rasanya membahas budaya membaca Jepang tanpa menyentuh manga. Pada tahun 2024, total pasar manga Jepang, termasuk fisik dan digital, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 704,3 miliar yen. Namun, pada tahun 2025 terjadi penurunan pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir sebesar 1,7% menjadi 692,5 miliar yen. Meskipun penjualan manga digital masih tumbuh 2,9% menjadi 527,3 miliar yen dan kini menguasai sekitar 76,1% dari total penjualan manga, penjualan cetak manga jatuh drastis hingga 14,4%. Angka ini menjadi bukti bahwa generasi muda pembaca manga cetak semakin menipis, sementara harga dan ekosistem manga digital belum sepenuhnya bersahabat bagi anak-anak dan remaja.
Kebangkitan Ruang Baca Alternatif: Perpustakaan dan Klub Buku
Di tengah merosotnya kepemilikan dan pembelian buku pribadi, serta hilangnya toko buku fisik dari berbagai daerah, muncullah fenomena ruang baca bersama. Meskipun lebih dari seperempat kotamadya di Jepang kini tidak memiliki toko buku fisik dan jumlah toko buku merosot drastis menjadi sekitar setengahnya dalam dua dekade terakhir, jumlah perpustakaan justru menunjukkan tren peningkatan yang stabil. Perpustakaan publik perlahan menjadi benteng terakhir bagi akses bacaan gratis. Pemerintah lokal terus menggenjot pembangunan perpustakaan yang lebih modern dengan fasilitas ruang baca yang nyaman, area kafe, hingga co-working space untuk menarik pengunjung lintas generasi.
Sejalan dengan itu, fenomena "klub buku" atau "komunitas baca" justru menunjukkan vitalitas yang meningkat. Di tengah menurunnya kebiasaan membaca secara soliter, membaca dalam konteks sosial mulai dianggap sebagai solusi. Laporan dari platform komunitas OSIRO menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, tingkat penyelenggaraan klub buku di kalangan komunitas daring meningkat sekitar dua kali lipat. Orang-orang, terutama dari kalangan dewasa muda, tidak lagi sekadar membaca sendirian, tetapi mulai bertukar pikiran serta berbagi interpretasi dan sudut pandang setelah membaca buku yang sama. Komunitas ini tumbuh tidak hanya di perkotaan, tetapi juga masif di ruang-ruang maya, memanfaatkan panggilan video dan media sosial untuk melewati batasan geografis.
Menatap Masa Depan: Antara Teknologi dan Kembalinya Kedalaman Membaca
Dari seluruh data dan fenomena yang terpapar, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebiasaan membaca orang Jepang dewasa ini berada di persimpangan yang rumit. Di satu sisi, smartphone dan media sosial telah menciptakan distraksi masif yang menggerus waktu dan rentang perhatian untuk terlibat dalam kegiatan membaca yang mendalam. Terbukti dari meningkatnya persentase non-pembaca hingga menyentuh angka mayoritas absolut.
Di sisi lain, teknologi juga membuka pintu akses yang lebih luas dan lebih murah melalui e-book, membangkitkan kembali kebiasaan membaca bagi sebagian kecil orang yang merasa terbantu oleh kepraktisannya. Sementara itu, segmen pasar komik digital terus tumbuh menunjukkan bahwa minat baca terhadap konten visual storytelling tidak pernah benar-benar padam. Namun akankah masyarakat mampu kembali menikmati teks naratif panjang dan bacaan mendalam, ataukah generasi mendatang benar-benar hanya akan akrab dengan teks pendek dan gambar? Masa depan literasi Jepang tampaknya akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, dan para pelaku industri kreatif mampu menyeimbangkan antara penetrasi layar digital dan upaya menumbuhkan kembali kecintaan terhadap aktivitas literasi yang substansial.
