Makna Sejarah dan Tradisi Perayaan Hari Kedewasaan Seijin no Hi di Jepang
![]() |
| Ilustrasi hari kedewasaan |
TELUSURI JEPANG - Jepang merupakan negara yang sangat menghargai transisi fase kehidupan warganya melalui berbagai upacara adat yang sarat akan makna filosofis. Salah satu momen paling signifikan dalam siklus hidup masyarakat Jepang adalah Seijin no Hi atau Hari Kedewasaan. Perayaan ini bukan sekadar seremoni formal tahunan, melainkan sebuah gerbang spiritual dan sosial yang menandai berakhirnya masa kanak-kanak dan dimulainya tanggung jawab penuh sebagai orang dewasa dalam struktur masyarakat Jepang yang teratur.
Setiap tahunnya, pada hari Senin kedua di bulan Januari, jalanan di berbagai kota di Jepang berubah menjadi panggung busana tradisional yang memukau. Pemuda dan pemudi yang telah atau akan genap berusia dua puluh tahun berkumpul untuk merayakan kemandirian mereka. Di balik kemeriahan warna-warni pakaian tradisional yang dikenakan, tersimpan nilai-nilai mendalam mengenai integritas, disiplin, dan pengabdian kepada negara yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman kuno.
Akar Sejarah dan Evolusi Perayaan Kedewasaan di Jepang
Tradisi merayakan kedewasaan di Jepang sebenarnya memiliki akar yang sangat tua, jauh sebelum istilah Seijin no Hi diresmikan secara nasional. Pada zaman kuno, ritual ini dikenal dengan nama Genpuku untuk laki-laki dan Mogi untuk perempuan. Dalam tradisi Genpuku yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan samurai, seorang anak laki-laki berusia antara dua belas hingga enam belas tahun akan menjalani upacara penggantian gaya rambut dan pemberian nama dewasa. Mereka juga mulai mengenakan pakaian orang dewasa sebagai simbol bahwa mereka sudah siap memanggul senjata atau memimpin keluarga.
Bagi perempuan, ritual Mogi melibatkan pemakaian kimono formal untuk pertama kalinya sebagai tanda bahwa mereka telah mencapai usia pernikahan. Namun, konsep Hari Kedewasaan yang modern seperti yang kita kenal saat ini baru muncul setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1948, pemerintah Jepang menetapkan 15 Januari sebagai hari libur nasional untuk memberikan harapan dan semangat baru bagi generasi muda di tengah masa pemulihan pasca-perang yang sulit. Tujuan utamanya adalah untuk mendorong kaum muda agar menyadari tanggung jawab mereka dalam membangun kembali bangsa.
Seiring berjalannya waktu, penetapan tanggal perayaan ini mengalami perubahan. Sejak tahun 2000, melalui sistem Happy Monday, pemerintah memindahkan perayaan Seijin no Hi ke hari Senin kedua di bulan Januari. Langkah ini diambil untuk memberikan waktu libur yang lebih panjang bagi masyarakat agar mereka dapat pulang ke kampung halaman dan merayakan momen penting ini bersama keluarga besar. Evolusi ini menunjukkan bagaimana Jepang mampu mengadaptasi tradisi kuno ke dalam sistem sosial modern tanpa menghilangkan esensi spiritualnya.
Ritual dan Upacara Formal di Balai Kota
Puncak dari Hari Kedewasaan adalah upacara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah di balai kota atau pusat kebudayaan setempat. Upacara ini dikenal dengan sebutan Seijin-shiki. Meskipun setiap daerah memiliki sedikit variasi dalam pelaksanaannya, struktur utamanya tetap sama. Para pemuda yang terdaftar di wilayah tersebut akan mendapatkan undangan resmi untuk menghadiri pidato dari wali kota atau tokoh masyarakat setempat.
Dalam pidato tersebut, para "dewasa baru" diingatkan bahwa mereka kini memiliki hak-hak baru secara hukum, seperti hak pilih dalam pemilihan umum dan izin untuk membeli alkohol serta rokok. Namun, di balik hak-hak tersebut, terdapat penekanan yang sangat kuat pada kewajiban sosial. Mereka diharapkan menjadi warga negara yang patuh hukum, berkontribusi pada ekonomi, dan menjaga harmoni sosial atau "wa" yang menjadi pilar utama kebudayaan Jepang.
Suasana di dalam aula biasanya berlangsung sangat khidmat. Para pemuda duduk dengan tegak mendengarkan wejangan mengenai masa depan bangsa. Bagi banyak dari mereka, ini adalah momen pertama kalinya mereka diperlakukan sepenuhnya sebagai bagian dari masyarakat produktif. Setelah rangkaian pidato selesai, acara biasanya dilanjutkan dengan pembacaan sumpah kedewasaan oleh perwakilan pemuda, diikuti dengan pembagian suvenir atau sertifikat sebagai tanda pengingat akan hari bersejarah tersebut.
Estetika Busana Tradisional Furisode dan Hakama
Aspek yang paling menarik perhatian dunia internasional dari Seijin no Hi adalah penampilan visual para pesertanya. Hari ini adalah hari di mana industri busana tradisional Jepang mencapai puncak kesibukannya. Bagi kaum perempuan, busana wajib yang dikenakan adalah Furisode. Ini adalah jenis kimono dengan lengan yang sangat panjang, sering kali mencapai satu meter, yang hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang belum menikah.
Furisode biasanya dihiasi dengan motif bunga yang sangat detail, burung bangau, atau pola tradisional lainnya yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Mengingat harga Furisode yang sangat mahal, sering kali mencapai ribuan dolar, banyak keluarga yang memilih untuk menyewa atau menggunakan warisan dari ibu atau nenek mereka. Proses mengenakan Furisode juga sangat rumit dan membutuhkan bantuan profesional, di mana para gadis harus bangun sejak subuh untuk merias wajah dan menata rambut mereka di salon kecantikan.
Sementara itu, bagi kaum laki-laki, meskipun banyak yang memilih mengenakan setelan jas modern bergaya barat agar terlihat profesional, masih banyak yang tetap setia pada tradisi dengan mengenakan Hakama. Hakama adalah celana rok tradisional yang lebar, dipadukan dengan kimono dan jaket pendek yang disebut Haori. Laki-laki yang mengenakan Hakama sering kali terlihat lebih gagah dan berwibawa, mencerminkan citra prajurit samurai di masa lalu. Keindahan busana ini bukan sekadar pamer kemewahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap identitas budaya bangsa.
Perubahan Batas Usia Dewasa dalam Hukum Jepang
Sebuah perubahan besar terjadi dalam sejarah Hari Kedewasaan Jepang pada April 2022. Pemerintah Jepang secara resmi menurunkan batas usia dewasa dari dua puluh tahun menjadi delapan belas tahun. Perubahan ini dilakukan untuk menyelaraskan hukum Jepang dengan standar internasional dan untuk mendorong kaum muda agar lebih aktif terlibat dalam dinamika sosial dan politik di usia yang lebih dini.
Meskipun secara hukum seseorang dianggap dewasa pada usia delapan belas tahun, perayaan Seijin no Hi tetap menghadapi dilema transisi. Banyak daerah di Jepang yang memutuskan untuk tetap mengadakan upacara bagi mereka yang berusia dua puluh tahun. Alasan utamanya adalah pertimbangan praktis; pada usia delapan belas tahun, sebagian besar remaja Jepang sedang sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas yang sangat kompetitif atau mencari pekerjaan pertama mereka. Mengadakan perayaan besar di tengah tekanan akademis dianggap kurang ideal.
Selain itu, meskipun batas usia dewasa turun ke delapan belas tahun untuk hal-hal seperti pernikahan tanpa izin orang tua atau menandatangani kontrak hukum, batas usia minimal untuk mengonsumsi alkohol dan berjudi tetap berada di angka dua puluh tahun. Ketidakkonsistenan ini membuat angka dua puluh tetap dianggap sebagai tonggak kedewasaan yang sesungguhnya di mata masyarakat umum. Oleh karena itu, Seijin no Hi tetap menjadi perayaan yang unik di mana status hukum dan tradisi sosial saling bersinggungan dalam proses adaptasi.
Dampak Sosial dan Reuni Generasi Muda
Selain sisi formalitasnya, Seijin no Hi memiliki fungsi sosial yang sangat penting sebagai ajang reuni. Banyak pemuda yang telah merantau ke kota besar seperti Tokyo atau Osaka untuk kuliah atau bekerja akan kembali ke kampung halaman mereka pada hari ini. Setelah upacara resmi di balai kota selesai, suasana khidmat biasanya berubah menjadi penuh keceriaan dan nostalgia.
Para peserta upacara akan berkumpul dengan teman-teman masa sekolah mereka. Mereka sering menghabiskan waktu dengan berfoto bersama di kuil-kuil setempat atau taman kota. Bagi mereka, ini adalah kesempatan langka untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan baru mereka di luar kota. Tak jarang, pesta-pesta kecil diadakan di restoran atau bar pada malam harinya sebagai perayaan pertama kalinya mereka boleh minum sake secara legal bersama teman sebaya.
Kegiatan reuni ini membantu memperkuat ikatan komunitas lokal yang mulai memudar akibat urbanisasi. Dengan kembalinya generasi muda ke daerah asal mereka, meskipun hanya untuk beberapa hari, terdapat suntikan energi dan kehidupan baru di kota-kota kecil. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk melihat anak-anak mereka telah tumbuh menjadi individu yang mandiri dan siap menghadapi dunia luar.
Tantangan Modernitas dan Penurunan Angka Kelahiran
Meskipun Hari Kedewasaan tetap menjadi agenda penting, perayaan ini tidak lepas dari tantangan zaman modern. Salah satu masalah utama yang membayangi Seijin no Hi adalah fenomena penurunan angka kelahiran atau "shoushika" di Jepang. Dari tahun ke tahun, jumlah peserta upacara kedewasaan terus mengalami penurunan secara signifikan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan struktur sosial dan tenaga kerja di Jepang.
Beberapa kota kecil bahkan mengalami situasi di mana jumlah peserta upacara hanya sedikit, yang membuat suasana perayaan terasa kurang meriah dibandingkan dekade sebelumnya. Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi faktor pertimbangan. Biaya untuk menyewa Furisode, membayar jasa tata rias, dan biaya perjalanan pulang kampung tidaklah murah. Di tengah ketidakpastian ekonomi, beberapa anak muda mulai mempertanyakan relevansi menghabiskan banyak uang untuk perayaan satu hari.
Pemerintah dan komunitas lokal berusaha mengatasi hal ini dengan membuat upacara yang lebih menarik dan inklusif. Beberapa daerah mulai mengintegrasikan elemen budaya populer atau teknologi dalam upacara mereka untuk menarik minat generasi Z. Meskipun tantangan demografis sangat nyata, semangat untuk merayakan fase kehidupan ini tetap bertahan karena nilai-nilai yang ditanamkan dalam Seijin no Hi dianggap sebagai identitas yang membedakan Jepang dengan negara lain.
Nilai Spiritual dan Kunjungan ke Kuil Shinto
Tidak lengkap merayakan Hari Kedewasaan tanpa aspek spiritual. Setelah mengikuti upacara formal, banyak pemuda dan keluarganya mengunjungi kuil Shinto untuk berdoa. Praktik ini dikenal sebagai Hatsumode yang dilakukan dalam konteks perayaan kedewasaan. Di kuil, mereka memberikan persembahan koin, membunyikan lonceng, dan berdoa untuk keselamatan serta kesuksesan di masa depan yang penuh tantangan.
Para dewasa baru ini juga sering membeli "Omikuji" atau ramalan nasib untuk melihat keberuntungan mereka di tahun pertama sebagai orang dewasa. Jika mendapatkan ramalan yang kurang baik, mereka akan mengikatkan kertas ramalan tersebut di dahan pohon kuil agar nasib buruk tersebut tidak mengikuti mereka. Selain itu, mereka sering membeli "Ema", yaitu plakat kayu kecil di mana mereka menuliskan harapan dan ambisi karier atau pendidikan mereka.
Kunjungan ke kuil ini berfungsi sebagai penyeimbang antara perayaan duniawi dan pengakuan terhadap kekuatan spiritual yang membimbing kehidupan. Hal ini mencerminkan karakteristik masyarakat Jepang yang mampu menjalankan kehidupan modern yang sangat teknologis namun tetap mempertahankan hubungan yang erat dengan alam dan leluhur melalui ritual Shinto. Momen hening di depan altar kuil memberikan ruang bagi para pemuda untuk merefleksikan diri sebelum benar-benar terjun ke dalam kompleksitas kehidupan dewasa.
Perbedaan Signifikan Antara Seijin no Hi dan Seijin Shiki
Dalam konteks perayaan kedewasaan di Jepang, masyarakat sering menggunakan istilah Seijin no Hi dan Seijin Shiki secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan makna yang berbeda. Seijin no Hi adalah sebutan untuk hari libur nasionalnya secara resmi, yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari untuk merayakan kesadaran kaum muda akan tanggung jawab dewasa mereka. Sementara itu, Seijin Shiki merujuk secara spesifik pada seremoni atau upacara formal yang diadakan di balai kota atau gedung pertemuan. Jadi, bisa dikatakan bahwa Seijin Shiki adalah acara utama yang berlangsung di dalam hari besar Seijin no Hi tersebut.
Mengenai waktu pelaksanaannya, Seijin no Hi selalu dirayakan pada hari Senin kedua di bulan Januari setiap tahunnya. Karena menggunakan sistem kalender tersebut, tanggal pastinya selalu berubah-ubah setiap tahun, namun tetap berada di rentang awal hingga pertengahan Januari. Perlu dicatat bahwa meskipun hari libur nasional jatuh pada hari Senin, beberapa pemerintah daerah yang berada di wilayah terpencil atau daerah dengan tingkat perantauan tinggi terkadang memajukan jadwal Seijin Shiki mereka ke hari Minggu sebelumnya atau bahkan saat libur musim panas agar lebih banyak pemuda yang bisa hadir pulang ke kampung halaman.
Pesan Moral dan Harapan Masa Depan Bangsa
Hari Kedewasaan pada akhirnya adalah tentang harapan. Bagi para orang tua, melihat anak-anak mereka mengenakan busana tradisional dan mengikuti upacara adalah momen emosional yang menandai keberhasilan mereka dalam membesarkan generasi penerus. Bagi masyarakat luas, ini adalah pengingat bahwa masa depan negara berada di tangan para pemuda yang baru saja dilantik ini.
Di tengah segala perubahan global dan tantangan domestik yang dihadapi Jepang, Seijin no Hi tetap berdiri tegak sebagai simbol ketahanan budaya. Perayaan ini mengajarkan bahwa kedewasaan bukan sekadar angka atau usia biologis, melainkan tentang kesiapan mental untuk memikul tanggung jawab dan kemampuan untuk menjaga kehormatan diri serta keluarga. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk membantu sesama.
Dengan berakhirnya hari Senin tersebut, para pemuda akan melepas busana mewahnya dan kembali ke rutinitas harian mereka sebagai mahasiswa atau pekerja. Namun, memori tentang Seijin no Hi akan selalu tersimpan sebagai pengingat bahwa mereka kini telah memiliki suara yang diakui dan peran yang penting dalam orkestra besar kehidupan bermasyarakat di Jepang. Tradisi ini akan terus berlanjut, beradaptasi dengan waktu, namun tetap menjaga inti sarinya sebagai perayaan atas kehidupan, kemandirian, dan kehormatan.

Posting Komentar