Inilah Deretan Kebiasaan Orang Jepang Menjelang Tahun Baru Penuh Makna
![]() |
| Ilustrasi tahun baru di Jepang |
TELUSURI JEPANG - Tradisi menyambut pergantian tahun di Jepang merupakan perpaduan harmonis antara nilai-nilai spiritual yang mendalam, dedikasi terhadap kebersihan fisik, dan kehangatan dalam lingkungan keluarga. Bagi masyarakat awam yang melihat Jepang sebagai negara teknologi canggih, momen akhir tahun justru menjadi waktu di mana negara ini menunjukkan sisi paling tradisional dan kontemplatifnya. Tahun Baru atau yang disebut sebagai Oshogatsu bukan sekadar perayaan pesta kembang api yang meriah, melainkan sebuah ritual panjang yang dimulai jauh sebelum tanggal satu Januari tiba untuk menyambut kedatangan Kami-sama atau dewa keberuntungan ke dalam rumah.
Ritual Pembersihan Besar atau Susuharai sebagai Awal Persiapan
Langkah pertama yang dilakukan hampir seluruh masyarakat Jepang menjelang akhir tahun adalah ritual pembersihan rumah secara menyeluruh yang dikenal dengan sebutan Susuharai. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada kegiatan membersihkan debu dan kotoran yang menumpuk selama setahun penuh. Namun bagi orang Jepang, makna di balik kegiatan ini jauh lebih dalam daripada sekadar menjaga kebersihan estetika. Susuharai dipandang sebagai tindakan penyucian spiritual untuk membuang energi negatif dari masa lalu dan menyiapkan ruang yang suci bagi Toshigami-sama, yaitu dewa yang dipercaya membawa berkah dan kemakmuran di tahun yang baru.
Kegiatan ini biasanya dimulai pada pertengahan Desember dan melibatkan seluruh anggota keluarga. Mereka akan membersihkan sudut-sudut rumah yang jarang terjamah, mulai dari langit-langit hingga bagian bawah perabotan berat. Kantor dan sekolah pun melakukan hal yang sama, menciptakan rasa kebersamaan dalam menutup lembaran lama. Dengan rumah yang bersih, masyarakat Jepang percaya bahwa keberuntungan akan lebih mudah masuk dan menetap di kediaman mereka sepanjang tahun mendatang.
Menghias Kediaman dengan Simbol Keberuntungan Tradisional
Setelah rumah dalam keadaan bersih, masyarakat Jepang akan mulai memasang berbagai dekorasi khas yang memiliki makna simbolis kuat. Salah satu hiasan yang paling umum ditemui di depan pintu rumah atau bangunan adalah Kadomatsu. Dekorasi ini terbuat dari tiga batang bambu yang dipotong miring dengan panjang berbeda, kemudian dihias dengan ranting pinus dan terkadang bunga prem. Bambu melambangkan kekuatan dan ketahanan, sementara pinus melambangkan umur panjang dan keabadian. Penempatan Kadomatsu di depan pintu bertujuan sebagai penanda bagi dewa agar tahu ke mana mereka harus singgah untuk memberikan berkah.
Selain Kadomatsu, masyarakat juga memasang Shimekazari di atas pintu masuk. Hiasan ini terbuat dari tali jerami suci yang disebut shimenawa, dihiasi dengan buah jeruk pahit atau daidai serta kertas berbentuk petir yang disebut shide. Shimekazari berfungsi sebagai garis pembatas antara dunia luar yang kotor dengan area rumah yang sudah disucikan, sekaligus mencegah roh jahat masuk ke dalam kediaman. Di dalam rumah, biasanya diletakkan Kagami Mochi di atas altar atau tempat khusus. Kagami Mochi terdiri dari dua tumpuk kue beras berbentuk bulat dengan jeruk di puncaknya, yang melambangkan keharmonisan serta pergantian tahun yang berkesinambungan.
Tradisi Mengirimkan Kartu Ucapan Nengajo yang Personal
Di era digital yang serba cepat, masyarakat Jepang tetap mempertahankan tradisi mengirim kartu ucapan fisik yang disebut Nengajo. Ini adalah cara unik bagi orang Jepang untuk menjaga hubungan sosial dan mengungkapkan rasa terima kasih kepada kerabat, teman, rekan kerja, hingga pelanggan bisnis. Menjelang akhir Desember, kantor pos di Jepang akan sangat sibuk melayani jutaan kartu yang harus dikirimkan tepat pada tanggal satu Januari. Masyarakat biasanya mulai menulis kartu-kartu ini sejak awal bulan untuk memastikan pesan mereka sampai tepat waktu.
Kartu Nengajo sering kali dihiasi dengan ilustrasi hewan zodiak Tiongkok yang mewakili tahun mendatang. Selain ucapan selamat tahun baru, pengirim biasanya menuliskan pesan singkat mengenai kabar terbaru mereka atau sekadar doa agar penerima selalu sehat. Tradisi ini sangat penting dalam budaya Jepang yang menjunjung tinggi etika dan hubungan antarmanusia. Menerima tumpukan kartu Nengajo di pagi hari tahun baru memberikan perasaan hangat dan keterhubungan bagi setiap individu, seolah menjadi pengingat bahwa mereka memiliki jaringan pendukung yang luas dalam menjalani hidup.
Perayaan Bonenkai untuk Melupakan Kesulitan Setahun Terakhir
Sebelum benar-benar memasuki masa tenang bersama keluarga, masyarakat Jepang memiliki tradisi pesta yang cukup semarak bernama Bonenkai. Secara harfiah, Bonenkai berarti pesta untuk melupakan tahun yang telah berlalu. Acara ini biasanya diadakan oleh kelompok teman, rekan kerja di kantor, atau anggota klub hobi. Tujuannya adalah untuk melepaskan segala beban, stres, dan kesulitan yang dialami selama setahun terakhir agar seseorang bisa memulai tahun baru dengan pikiran yang segar dan tanpa dendam atau penyesalan.
Dalam acara Bonenkai, suasana biasanya sangat cair dan santai dibandingkan dengan etika kerja yang kaku di Jepang sehari-hari. Orang-orang akan makan bersama dan minum sake atau bir sambil mengobrol akrab. Meskipun terlihat seperti pesta biasa bagi orang awam, Bonenkai memiliki fungsi psikologis yang penting sebagai mekanisme koping kolektif. Dengan merayakan kegagalan dan kesuksesan bersama-sama, mereka menutup babak kehidupan yang lama dengan tawa, sehingga siap melangkah ke depan dengan optimisme baru tanpa membawa beban emosional dari masa lalu.
Menikmati Toshikoshi Soba sebagai Simbol Umur Panjang
Malam menjelang tahun baru atau yang dikenal sebagai Omisoka diisi dengan kegiatan yang lebih tenang dan berfokus pada keluarga. Salah satu tradisi kuliner yang wajib dilakukan pada malam tanggal tiga puluh satu Desember adalah menyantap Toshikoshi Soba. Ini adalah mi gandum hitam yang disajikan dalam kuah hangat atau dingin. Tradisi ini telah ada sejak zaman Edo dan mengandung banyak filosofi hidup yang sangat dihargai oleh masyarakat Jepang hingga saat ini.
Mi soba memiliki bentuk yang panjang dan tipis, yang melambangkan harapan akan umur yang panjang dan kehidupan yang langgeng. Selain itu, mi soba lebih mudah putus dibandingkan jenis mi lainnya saat digigit. Karakteristik mudah putus ini secara simbolis diartikan sebagai memutus segala kemalangan atau nasib buruk yang terjadi di tahun yang lama agar tidak terbawa ke tahun yang baru. Menyantap semangkuk soba bersama keluarga di malam yang dingin sambil menonton acara televisi khusus tahun baru adalah momen keintiman yang sangat berharga bagi masyarakat Jepang.
Tradisi Mendengarkan Dentuman Lonceng Joya no Kane
Saat jam mendekati tengah malam, suasana di Jepang akan menjadi sangat khidmat dengan terdengarnya suara dentuman lonceng besar dari kuil-kuil Buddha di seluruh penjuru negeri. Tradisi ini disebut Joya no Kane. Lonceng akan dibunyikan sebanyak seratus delapan kali. Bagi orang awam, jumlah ini mungkin terasa aneh atau sangat banyak, namun angka tersebut memiliki makna religius yang sangat kuat dalam ajaran Buddha.
Seratus delapan dentuman tersebut melambangkan seratus delapan jenis keinginan atau nafsu duniawi yang dianggap sebagai sumber penderitaan manusia. Setiap dentuman lonceng dipercaya dapat menghapus satu per satu nafsu tersebut dari jiwa setiap pendengarnya. Dengan mendengarkan dentuman ini hingga tuntas di tengah kesunyian malam, masyarakat Jepang merasa sedang melakukan pembersihan spiritual secara kolektif. Bunyi lonceng yang berat dan bergema di udara malam menciptakan atmosfer yang tenang dan reflektif, membawa setiap orang pada keadaan meditasi ringan untuk merenungkan kehidupan mereka.
Persiapan Osechi Ryori untuk Hidangan Hari Pertama
Bagi para ibu rumah tangga dan keluarga di Jepang, hari-hari terakhir menjelang tahun baru juga diisi dengan kesibukan menyiapkan Osechi Ryori. Ini adalah kumpulan makanan istimewa yang disajikan dalam kotak kayu bersusun yang disebut jubako. Uniknya, Osechi Ryori disiapkan sebelum tahun baru tiba karena menurut tradisi, orang dilarang menyalakan api atau memasak di dapur selama tiga hari pertama tahun baru agar tidak mengganggu dewa api dan memberikan waktu istirahat bagi mereka yang biasanya memasak.
Setiap jenis makanan di dalam Osechi Ryori dipilih bukan hanya karena rasanya, tetapi karena makna simbolis yang terkandung di dalamnya. Misalnya, udang melambangkan umur panjang karena bentuknya yang melengkung seperti punggung orang tua, telur ikan melambangkan kesuburan dan keturunan yang banyak, serta kacang kedelai hitam yang melambangkan kesehatan dan kerja keras. Karena makanan ini harus bertahan selama beberapa hari, biasanya teknik pengolahannya melibatkan banyak gula, cuka, atau dikeringkan. Menyiapkan Osechi Ryori adalah bentuk dedikasi keluarga untuk memulai tahun dengan asupan nutrisi yang penuh dengan doa dan harapan baik.
Kunjungan Pertama ke Kuil atau Hatsumode yang Penuh Harapan
Tepat setelah tengah malam atau pada pagi hari pertama di bulan Januari, masyarakat Jepang akan berbondong-bondong melakukan Hatsumode, yaitu kunjungan pertama ke kuil Shinto atau Buddha di tahun yang baru. Meskipun cuaca di Jepang pada bulan Januari biasanya sangat dingin, hal ini tidak menyurutkan semangat jutaan orang untuk mengantre di kuil-kuil besar maupun kecil. Hatsumode adalah waktu di mana masyarakat memanjatkan doa secara langsung untuk keselamatan, kesehatan, dan kesuksesan di tahun yang baru.
Di kuil, orang-orang biasanya akan melemparkan koin sebagai persembahan, membunyikan lonceng untuk menarik perhatian dewa, dan membungkuk serta bertepuk tangan saat berdoa. Selain berdoa, banyak juga yang membeli Omikuji, yaitu kertas ramalan nasib. Jika ramalannya buruk, mereka akan mengikatkan kertas tersebut di pohon-pohon yang ada di kuil dengan harapan dewa akan mengubah nasib buruk tersebut menjadi lebih baik. Mereka juga membeli jimat keberuntungan atau Omamori yang baru untuk dibawa sepanjang tahun sebagai pelindung diri. Aktivitas Hatsumode ini menutup rangkaian persiapan panjang yang telah dilakukan dan menandai dimulainya lembaran baru dengan restu dari kekuatan spiritual yang mereka yakini.

Posting Komentar